Jenis finishing kayu ada beberapa macam dan biasanya dipilih berdasarkan hasil yang ingin didapatkan. Setiap jenis finishing kayu dapat memberikan rasa, tampilan, dan kesan yang berbeda, baik saat dilihat maupun saat disentuh.
Secara sederhana, finishing kayu dapat dibedakan menjadi dua. Ada finishing yang meresap ke dalam serat kayu, dan ada finishing yang membentuk lapisan di permukaan kayu.
Finishing yang meresap ke dalam serat kayu tidak meninggalkan lapisan di permukaan. Serat kayu tetap terasa saat disentuh, sehingga kayu terlihat lebih asli dan alami.
Baca Juga : Teak Oil untuk Kayu: Kegunaan, Kelebihan, dan Risikonya
Sementara itu, finishing kayu yang membentuk lapisan akan meninggalkan lapisan tipis di atas permukaan kayu. Meski warnanya tetap terlihat natural, permukaan kayu terasa berbeda saat disentuh karena ada lapisan yang menempel di atasnya.
Berdasarkan cara kerja dan hasilnya, berikut adalah jenis finishing kayu yang umum digunakan.
Jenis Finishing Kayu Natural Tanpa Membentuk Lapisan
Jenis finishing kayu tanpa membentuk lapisan termasuk yang paling simpel dan mudah diterapkan. Prosesnya tidak memerlukan alat khusus dan bisa dilakukan oleh siapa saja.
Saat disentuh, permukaan kayu tetap terasa apa adanya karena tidak tertutup lapisan. Tekstur dan pori kayu masih bisa dirasakan dengan jelas.
1. Tung Oil

Tung oil umumnya tersedia dalam bentuk murni sehingga cukup pekat dan memiliki waktu pengeringan yang lama. Proses pengeringannya bahkan bisa memakan waktu hingga seharian penuh.
Karena itu, tung oil biasanya diencerkan terlebih dahulu menggunakan thinner sebelum diaplikasikan. Setelah tercampur, tung oil dapat langsung diaplikasikan ke seluruh permukaan kayu dengan kain.
Hasil finishing menggunakan tung oil membuat warna kayu terlihat lebih gelap dan serat kayu tampak indah.
2. Linseed Oil
Linseed oil berasal dari minyak biji rami. Cara pengaplikasiannya juga tergolong mudah, cukup dipoles menggunakan kain bersih ke permukaan kayu.
Setelah diaplikasikan, tampilan kayu akan terlihat lebih indah dengan warna yang sedikit menggelap, namun tetap terasa alami saat disentuh.
3. Natural Oil
Produk natural oil sudah tersedia dalam bentuk siap pakai sehingga tidak memerlukan pencampuran dengan thinner maupun air.
Salah satu contohnya adalah Biopolish Natural Oil. Produk ini bisa langsung diaplikasikan dengan kain dan memiliki waktu penyerapan yang relatif lebih cepat.
Hasil finishing menggunakan natural oil membuat warna kayu tampak lebih indah, serat kayu terlihat jelas, serta memberikan kilau alami yang halus.
4. Beeswax
Beeswax adalah lilin lebah alami yang berbentuk pasta padat. Finishing menggunakan beeswax menghasilkan tampilan kayu yang lebih indah dengan kilau lembut.
Beberapa orang memiliki kayu dengan warna yang sudah indah dan tidak ingin warnanya berubah terlalu banyak. Untuk kondisi ini, beeswax sering dipilih karena perubahan warna yang dihasilkan tidak sedalam tung oil maupun linseed oil.
Hasilnya tetap terlihat natural, mendekati tampilan asli kayu, namun terasa lebih halus, berkilau lembut, dan terlindungi.
Beeswax juga memiliki kemampuan water repellent, yaitu memberikan efek seperti air di daun talas. Saat air menetes ke permukaan kayu yang telah difinishing menggunakan beeswax, air tidak langsung terserap, melainkan membentuk buliran yang mudah dihilangkan.
5. Teak Oil
Meskipun dinamakan teak oil, bahan ini sebenarnya tidak berasal dari minyak kayu jati. Teak oil umumnya terbuat dari campuran minyak alami, seperti linseed oil atau tung oil, yang kemudian ditambahkan dengan bahan kimia tertentu.
Hasil finishing dengan teak oil tetap terlihat natural dan terserap ke dalam kayu tanpa membentuk lapisan film. Namun, salah satu kekurangannya adalah aroma yang cukup menyengat akibat kandungan bahan kimia di dalamnya.
Jenis Finishing Kayu Natural dengan Lapisan Film
Berbeda dengan jenis sebelumnya, finishing kayu dengan lapisan film tergolong lebih kompleks. Proses aplikasinya membutuhkan beberapa tahap serta alat khusus, seperti kuas atau spray gun.
Jenis finishing ini umumnya terdiri dari beberapa tahapan, mulai dari penggunaan dempul kayu, wood stain, sanding sealer, hingga top coat atau clear coat. Jika ingin memberikan warna natural tertentu, wood stain dapat digunakan sesuai warna yang diinginkan. Namun, jika tidak ingin mengubah warna kayu, tahap wood stain bisa dilewati dan langsung menggunakan top coat.
Berdasarkan bahan dasarnya, jenis finishing kayu dengan lapisan film dibedakan menjadi dua, yaitu solvent based dan water based.
1. Finishing Kayu Solvent Based
Finsihing kayu solvent based yaitu berbasis solvent dan butuh pelarut seperti thinner. Umumnya menggunakan resin alkyd atau epoxy. Banyak produk di pasaran memakai jenis bahan ini. Kelemahannya yaitu ada pada aroma yang tajam menyengat. Finishing kayu solvent based juga mulai dihindari oleh sebagian orang karena risiko yang ditimbulkan terhadap kesehatan maupun lingkungan.
2. Finishing Kayu Water Based
Finishing kayu water based adalah opsi yang lebih aman karenanberbasis air sehingga cukup dilarutkan dengan air bersih saja. Tidak menimbulkan bau menyegat, dan lebih aman bagi kesehatan serta keberlanjutan lingkungan.
Semua jenis finishing di atas baik yang membentuk lapisan film maupun tidka punya kelebihan dan kekurangan masing masing. Pemilihan bisa berdasarkan kebutuhan dan hasil yang diinginkan.
Apabila Anda ingin tampilan natural tanpa ada lapisan pada permukaan kayu maka bisa menggunakan produk dari Biopolish. Biopolish tersedia dalam dua produk yaitu Biopolish Beeswax dan Biopolish Natural Oil. Keduanya adalah bahan finishing yang bisa Anda pakai untuk hasil natural dan terlindungi.
Biopolish jauh lebih praktis karena tidak perlu dicampur thinner, tanpa bau menyegat sama sekali. Selain itu, Biopolish juga sudah mengantongi sertifikat FDA (Food And Drug Administration) sehingga aman bagi kesehatan dan lingkungan.
Untuk pemesanan Biopolish Beeswax maupun Biopolish Natural Oil, silakan klik banner di bawah ini.