Kayu sengon banyak digunakan untuk membuat kursi, meja, lemari, rak, dan berbagai furniture interior. Harganya relatif terjangkau karena pohon sengon memiliki masa tebang yang cukup pendek, sekitar 5-8 tahun. Pertumbuhannya yang cepat membuat ketersediaan kayu ini cukup melimpah di pasaran.
Bobot kayu sengon juga tergolong ringan hingga sangat ringan. Furniture yang dibuat dari kayu ini lebih mudah diangkat dan dipindahkan saat membersihkan atau menata ulang ruangan.
Harga yang murah serta bobot yang ringan memang menguntungkan. Namun, ada harga ada kualitas. Di balik keunggulan tersebut, kayu sengon mempunyai sejumlah keterbatasan yang perlu dipertimbangkan.
Baca Juga : Sifat Fisik Kayu yang Membuatnya Cepat Rusak
Berat Jenis dan Kerapatannya Rendah
Salah satu kekurangan kayu sengon terletak pada berat jenis kayu yang rendah. Kondisi tersebut membuat bobotnya ringan, tetapi sekaligus menyebabkan kayu kurang padat dibandingkan jenis kayu keras.
Kerapatan kayu yang rendah juga membuat permukaannya relatif lebih lunak. Kayu dapat lebih mudah penyok, tergores, atau rusak ketika terkena benturan dan tekanan keras.
Furniture dari sengon perlu digunakan dengan lebih hati-hati, terutama jika berbentuk meja, kursi, atau lemari yang sering dipakai. Meletakkan benda terlalu berat pada bagian tertentu dapat meningkatkan risiko perubahan bentuk maupun kerusakan pada konstruksinya.
Kekuatan Kayu Sengon Terbatas
Kekuatan kayu sengon juga tergolong rendah. Kayu ini kurang ideal untuk membuat furniture yang harus menahan beban berat secara terus-menerus.
Sambungan pada furniture juga perlu dibuat dengan tepat. Paku, sekrup, atau bagian sambungan yang dipasang kurang sesuai dapat membuat kayu pecah, goyah, atau lebih cepat longgar.
Oleh karena itu, kayu sengon lebih sesuai digunakan untuk furniture ringan. Pengrajin juga perlu menyesuaikan desain dan konstruksi dengan karakter kayunya agar furniture tetap aman digunakan.
Keawetannya Sangat Rendah
Tingkat keawetan kayu sengon sangat rendah. Kayu ini tergolong dalam kelas awet IV-V. Keawetan kayu yang rendah membuatnya lebih mudah terserang rayap dan jamur.
Serangan rayap dapat merusak bagian dalam kayu secara perlahan. Lama-lama kelamaan furniture akan keropos dan tidak bisa dipakai lagi.
Sementara itu, jamur lebih mudah tumbuh ketika furniture ditempatkan di lokasi lembap atau sering terkena air. Pertumbuhannya dapat menimbulkan bercak, membuat permukaan kusam, serta mempercepat kerusakan kayu.
Biasanya, kayu sengon sudah diawetkan oleh industri pengawetan kayu atau pengrajin sebelum digunakan untuk membuat furniture. Meskipun sudah melewati tahap tersebut, pemilik furniture berbahan kayu sengon tetap perlu memberikan perhatian lebih.
Stabilitas Dimensinya Rendah
Kekurangan kayu sengon berikutnya adalah stabilitas dimensi yang rendah. Kayu dapat mengalami perubahan ukuran maupun bentuk ketika kadar air dan kelembapan di sekitarnya berubah.
Furniture berisiko menyusut, memuai, retak, atau melengkung apabila kayu belum dikeringkan dengan baik. Perubahan tersebut dapat membuat pintu lemari sulit ditutup, sambungan merenggang, atau permukaan meja menjadi kurang rata.
Membutuhkan Perawatan Lebih Ekstra
Pemilik furniture sengon perlu membersihkan permukaannya secara rutin menggunakan kain, kemoceng, atau alat pembersih lainnya. Penempatan furniture juga perlu diperhatikan. Hindari lokasi yang basah dan lembap karena kondisi tersebut dapat memicu pertumbuhan jamur.
Apabila furniture terkena tumpahan air atau noda, segera bersihkan dan lap menggunakan kain. Pemolesan menggunakan Biopaint Natural Oil juga dapat dilakukan untuk merawat furniture serta menjaga tampilan kayu tetap menarik.

Kayu sengon tetap dapat menjadi pilihan ekonomis untuk furniture. Namun, berat jenis, kekuatan, kerapatan, keawetan, dan stabilitas dimensinya yang rendah perlu menjadi pertimbangan sebelum memilihnya.
Rawat kayu sengon dengan Biopaint Natural Oil supaya kayu tidak kusam dan tetap awet. Untuk pemesanan Biopaint Natural Oil dan informasi lebih lanjut seputar produk, silakan klik banner di bawah ini.








